
Dalam perjalanan sejarah panjang bangsa ini, ada sosok perempuan sederhana yang kisahnya nyaris tenggelam di balik bayang-bayang megahnya nama besar Bung Karno. Dialah Ni Luh Putu Sugianitri, atau akrab disapa Nitri seorang gadis Bali yang menjadi polwan terakhir yang mengawal sang Proklamator di masa-masa senjanya.
Awal Kisah: Malam yang Aneh di Sukabumi
Malam 30 September 1965 menjadi malam yang tak pernah dilupakan Nitri.
Saat itu, di Asrama Pendidikan Polwan Sukabumi, para siswi baru saja dikukuhkan setelah menempuh pendidikan selama setahun. Malam itu seharusnya menjadi malam penuh sukacita malam hiburan dengan tarian, nyanyian, dan tawa.
Nitri, yang dikenal piawai menari Bali, telah bersiap tampil. Namun, tiba-tiba lampu padam, dan pengumuman mengejutkan datang: acara dibatalkan. Tak ada penjelasan, tak ada alasan. Semua pulang dalam kebingungan.
Keesokan harinya, 1 Oktober 1965, kabar menggemparkan mengguncang negeri: tujuh jenderal diculik dan dibunuh, jasadnya ditemukan di Lubang Buaya. Nitri hanya bisa terdiam, tak tahu apakah pembatalan acara malam itu sekadar kebetulan atau pertanda dari badai besar yang akan mengguncang sejarah Indonesia.
Dari Penari Menjadi Ajudan Bung Karno
Waktu berjalan. Dari seorang polwan muda, Nitri kemudian mendapat tugas mulia: menjadi ajudan pengantar makanan bagi Bung Karno.
Kala itu, sang Presiden sudah tak lagi berkuasa penuh. Hari-harinya diisi dengan membaca koran, merenung, dan berbicara sendiri tentang politik dan nasib bangsa yang dicintainya.
Nitri yang masih muda hanya bisa mendengarkan. Suatu hari, ia memberanikan diri bertanya soal politik. Bung Karno menatapnya, lalu berkata dengan suara berat,
“Ah, sudahlah, kamu masih kecil, tahu apa soal politik. Kalau saja aku mau berkata… pecah nanti negara ini. Biar dadaku saja yang aku robek, asal negara ini tetap bersatu.”
Setiap kali mengenang kata-kata itu, air mata Nitri tak pernah tertahan.
“Saya menangis kalau ingat Bapak. Sekarang ini rasa nasionalisme dan persatuan bangsa sudah banyak pudar,” ujarnya pilu.
Hari-Hari Terakhir Bersama Sang Putra Fajar.
Setiap pagi, Nitri mengantarkan makanan kecil untuk Bung Karno. Kadang mereka berbincang ringan, kadang hanya diam sambil menatap sepi. Setiap minggu, Bung Karno masih sempat menikmati musik keroncong di Istana Bogor hiburan sederhana yang menjadi pelipur hatinya.
Namun masa itu tak lama. Tahun 1967, setelah pergantian kepemimpinan ke Presiden Soeharto, Bung Karno ditempatkan di Wisma Yaso, dan tak lagi boleh dijenguk siapa pun kecuali keluarga dengan izin pemerintah.
Foto Terakhir: Kenangan yang Tak Pernah Pudar
Kenangan paling berharga bagi Nitri adalah foto terakhir bersama Bung Karno, diambil tepat setelah upacara pergantian presiden.
Awalnya ia sempat heran ketika Bung Karno mengajaknya berfoto.
“Buat apa foto, Pak?” tanya Nitri polos.
Bung Karno tersenyum, “Lho, kok buat apa? Aku kan besok sudah tidak pakai pakaian ini lagi.”
Nitri tak menyangka, foto itulah yang menjadi kenangan terakhirnya bersama sang Proklamator satu-satunya peninggalan yang masih ia simpan hingga akhir hayatnya.
“Untung Bapak mengajak berfoto waktu itu,” kenangnya lembut.
🌹 Akhir Sebuah Pengabdian
Ni Luh Putu Sugianitri akhirnya menutup mata untuk selamanya beberapa tahun silam, di rumahnya di Jalan Drupadi, Denpasar. Namun kisahnya tetap hidup kisah seorang perempuan muda yang dengan hati tulus mengabdi kepada Sang Proklamator, tanpa pamrih, tanpa pamor.
Dari sekian banyak pengawal yang pernah mendampingi Bung Karno, mungkin hanya Nitri yang paling sederhana, tapi justru menyimpan cinta dan kesetiaan yang tak lekang oleh waktu.





